Berita >> Hiburan >> Hiburan

Kisah Urat Nadi Naga
BERITA - babih-kau.blogspot.com - Pada jaman Tiongkok kuno, hiduplah seorang master Feng Shui [1] yang sangat piawai namun berhati jahat, dia mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencari “urat nadi naga”[2] yang legendaris seperti yang disebutkan dalam buku-buku kuno. Suatu hari ia melakukan sebuah perjalanan ke sebuah tempat yang terpencil. Setelah menaiki satu bukit ke bukit yang lain, dibawah terik matahari dan sulit mendapatkan air, ia benar-benar kecapekan dan kehausan. Akhirnya ia dari kejauhan melihat sebuah bangunan yang hampir roboh dikelilingi tembok, dengan bergegas ia berlari ke bangunan tersebut dan mengetuk pintunya. Setelah menunggu agak lama, seorang wanita tua membuka pintu.. Langsung ia memohon sambil mengusap keringat yang bercucuran di keningnya karena tersengat matahari sepanjang hari, ”Nenek, bolehkah saya minta seteguk air untuk minum?” Wanita tua itu melihat wajah master Feng Shui yang penuh semangat, dan nadi leher yang tenggelam oleh panas matahari. “Tunggulah”, katanya, lalu ia membalikkan badannya, pergi perlahan meninggalkan Master Feng Shui itu tanpa mempersilahkan masuk. Setengah hari telah berlalu, baru saja si Master Feng Shui itu telah hilang kesabarannya, wanita tua itu kembali dengan membawa semangkok air ditangannya. Segera saja Master Feng Shui itu meraih mangkok dari tangan nenek tua itu dan seketika hendak meneguk habis air dalam mangkok itu, namun ia menemukan beberapa sekam mengapung diatas air. Ia menjadi sangat marah, namun karena ia begitu haus, dengan enggan ia meniup sekam itu ke pinggir mangkok dan meminumnya dengan perlahan. Lihat Sumbernya
dikirim oleh indry 34 hari 22 jam lalu - di Hiburan
dipopulerkan 34 hari 22 jam lalu
  Kisah Urat Nadi Naga 
0 Komentar
Sepi ya ... ayo komentar dooong!
Tambah Komentar
Username*
Password*
 

Top Article - Hiburan

184     Video Obama Dinterupsi Bebek
164  7 Ciri-Ciri Cewek Matre
2  Tebakan Minggu Ini | Dunia Blogger
1     Michael Jackson dan "Child Abuse"
1     Inilah Puisi Cinta Oleh Kahlil Gibran