Berita >> Gaya Hidup >> Seni & Budaya

Wayang Kotemporer Berteknologi Dipuji
BERITA - seni-budaya.infogue.com - SANUR, BALI--Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik memuji kreativitas yang menampilkan kesenian wayang kotemporer dengan sentuhan kemajuan teknologi, seperti menggunakan lampu listrik warna-warni.

"Wayang seperti itulah yang seharusnya kita kembangkan untuk menarik minat generasi muda. Indonesia kaya dengan produk budaya sejenis," kata Jero Wacik di Sanur, Bali, kemarin.

Ia mengaku sejak kecil suka menonton wayang dan kesenian Bali lainnya. Kegemaran tersebut diakui sama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semasa remaja.

"Saya sejak kecil senang dengan kesenian Bali. Waktu itu bersama teman sebaya di Desa Kintamani sudah belajar menabuh gamelan Bali," ucapnya usai menyaksikan pergelaran wayang kotemporer menampilkan dalang I Made Sidia.

Pertunjukan wayang dengan efek pencahayaan dan tata visual modern serta dialog menggunakan bahasa Inggris, akan bisa menjadi "magnet" untuk mendatangkan wisatawan ke Indonesia.

Pertunjukan wayang tersebut bisa menjadi atraksi yang sangat menarik untuk menunjang industri pariwisata.

"Wayang kulit yang merupakan budaya tradisional harus dikemas dengan sentuhan teknologi. Ceritanya juga harus lebih menarik sehingga orang mau menonton," katanya.

Wacik mengatakan, keberadaan wayang memang cukup unik. Tema ceritanya pun sangat aktual terkait dengan pelestarian lingkungan. "Itu illegal logging," ucapnya ketika menyaksikan sejumlah bentuk peraga alat berat penebangan hutan, dengan gambar gergaji mesin dalam layar wayang tersebut.

Selain menampilkan wayang kulit, pementasan tersebut juga dipadu dengan sejumlah penari dengan mengangkat tokoh-tokoh pewayangan dalam lakon Ramayana.

Sementara ki dalang wayang kotemporer, I Made Sidia asal Desa Bona, Kabupaten Gianyar, mengaku sudah sering mengisi pentas di beberapa tempat, baik nasional maupun internasional.

"Saya sudah sering pentas untuk mengisi kegiatan-kegiatan budaya yang berskala nasional maupun internasional," kata pria yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Pementasan kesenian wayang kotemporer itu serangkaian kegiatan Sanur Village Festival (SVF) ke-3 yang berlangsung hingga 10 Agustus 2008. Kegiatan tersebut menampilkan 26 kegiatan utama meliputi olahraga, kesenian dan pameran. (ANT)

sumber: kmps
Lihat Sumbernya
Dikirim: 34 hari 22 jam lalu - dipopulerkan 34 hari 22 jam lalu
Pengirim: itachi
Kirim ke Teman: Kirim ke teman
Kategori: SENI & BUDAYA
Tag: Seni & Budaya, Wayang Kotemporer, Berteknologi Dipuji
Sortir: Sortir
   

  Setting   Tutup Komentar   Sensor  

 
Kamu bisa membalas pesan yang kamu terima disini. (kode HTML tidak diperbolehkan)


  Pesan akan segera ditampilkan setelah proses kirim.